Kamis, 19 Juli 2012

Amalan Menyambut Ramadhan



Tidak terasa bulan Sya’ban telah bergulir hampir separuh perjalanan. Itu artinya waktu semakin mendekati bulan Ramadhan. Sudah maklum bagi kita semua keistimewaan bulan Ramadhan. Hal ini bisa terasakan pada kehidupan di sekitar kita.Tidak hanya harga sembako yang secara perlahan tapi pasti mulai beranjak naik, tetapi juga semangat beribadah semua orang dari anak-anak hingga nenek-nenekpun semakin bertambah. Bahkan masjid dan mushalla mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.
Lantas apa semua amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini?
Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.
Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.
Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan".
Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.
Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35).
Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :
 اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ
Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah  Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.
Ketiga, saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;
 ...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)
Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).
Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan.
Redaktur: Ulil Hadraw

Kesunahan dan Hikmah Mengangkat Telunjuk Ketika Tasyahhud



Sering kali kita sebagai seorang muslim yang awam belajar shalat maupun ibadah yang lain hanya seperluanya saja. Bahkan tidak jarang diantara kita eggan bertanya kepada para ustadz maupun mu’allim tentang apa yang sebenarnya ada dibenak kita. Entah karena merasa hal tersebut tidak penting ataukah memang tidak enak bila banyak bertanya. Apalagi jika pertanyaan dengan kata tanya mengapa.
Namun jika tiba waktunya, kita sering menyesalkan mengapa hal itu tidak kita tanyakan, bukankah malu bertanya sesat di jalan, begitu pepatah berkata. Biasanya kasus seperti ini muncul dalam masalah-masalah yang kelihatannya sepele, yang sudah taken for granted atau Ma wajadna aba-anaa. Dengan kata lain, perkara yang sudah dari sononya begitu. Semisal menegakkan jari telunjuk kanan ketika membaca tasyahud dalam shalat, baik tasyahud awal maupun tasyahud akhir.
Memang para muallim, kyai dan ustadz sedari dulu juga mengajari shalat demikian, turun temurun dari gurunya lagi hingga Rasulullah saw. sebagai mana dalam hadits-Nya yang popular

صلوا كما رأيتموني أصلي- رواه البخاري.
Rasulullah saw bersabda “Shalatlah kalian sebagaimana kamu melihat (tata cara) shalatku” HR. Bukhari
Namun, sejatinya hal ini mengandung hikmah tersendiri sebagaimana disinggung dalam kitab Zubad Syaikh Ibnu Ruslan:
وعند إلاالله فـــالمهللة  *  إرفع لتوحيد الذى صليت له
Dan ketika mengucapkan ‘illallah’ angkatlah telunjukmu guna mengesakan Tuhan, karena itulah tujuan shalatmu.
Memang kalimat bait di atas sangatlah sederhana, tetapi muatan dibalik kesederhanaan itu sangatlah dalam sekali. Bahwasannya shalat yang kita lakukan tidaklah semata untuk menggugurkan kewajiban belaka, tetapi untuk mengesakan-Nya. Sudahkan kita shalat seperti itu?
Begitulah hikmah yang penting dibalik pengangkatan telunjuk ketika tasyahud, sehingga dalam Hasyiah atas Syarah Sittin Lil Allamah ar-ramli diterangkan bahwa mengangkat telunjuk ketika tasyahud hukumnya sunnah.
ويسن أن يشير بها عند قوله إلا الله ولتكن منحنية متوجهة للقبلة وذلك فى تشهديه   
Maka seseungguhnya disunnahkan berisyarat dengan telunjuk (tangan kanan) ketika mengucapkan ‘Illallah’ dan hendaklah telunjuk itu membungkuk menghadap qiblat. Baik dalam tasyahud awal maupun tasyahud akhir.
Apa yang diputuskan oleh para ulama di atas tentunya tidaklah asal-asalan sebagai penguat sebuah hadits dari az-Zubair alam Musnad Imam Ahmad diterangkan:
‏حدثنا ‏ ‏يحيى بن سعيد ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عجلان ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏عامر بن عبد الله بن الزبير ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏قال ‏‏كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إذا جلس في التشهد وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى وأشار بالسبابة ولم يجاوز بصره إشارته ‏
Ketika Rasulullah saw duduk dalam tasyahud, diletakkanlah tangannya yang kanan di atas paha kanan, dan tangan yang kiri di atas paha kiri, dan beliau berisyarat dengan telunjuk, juga pandangannya tidak melampaui isyaratnya. (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i)
Inilah hikmah selanjutnya, secara tidak langsung Rasulullah saw memngajari ummatnya bahwa telunjuk dapat menjadi media menuju shalat yang khusyu' dengan membatasi pandangan kita jangan sampai melampau isyarat itu. metode seperti ini mungkin dapat dikembangkan lagi bagi mereka yang memiliki semangat menuju shalat khusyu'
Adapun pembahasan mengenai hukum dan dalil menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahhud telah tersedia dalam rubrik ubudiyah, mohon untuk menengoknya kembali.
Redaktur: Ulil Hadrawy

5 Hal yang Sering Diabaikan Ketika Berwudhu


Syariah 

Selain memenuhi Fardhunya  wudhu, seseorang biasanya menyempurnakan wudhunya dengan menjalankan kesunnahan wudhu. Namun demikian, seringkali seseorang melewatkan beberapa tindakan sunnah karena menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Padahal, jikalau dilakukan akan menambah nilai wudhu itu sendiri.
Ada lima kesunnahan wudhu yang sering diabaikan; Pertama, membaca basmallah. Nampaknya kelalaian membaca basmallah sebelum berwudhu bukanlah hal yang baru. Rasulullah saw sendiri pernah mengingatkan sahabatnya untuk membaca basmallah ketika hendak berwudhu, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits
روي أنه صلى الله عليه وسلم وضع يده فى إناء وقال لأصحابه توضئوا باسم الله
Dengan demikian bacaan basmallah dalam wudhu hukumnya sunnah muakkad. Bahkan Imam Ahmad menyatakan bahwa membaca basmillah untuk berwudhu hukumnya wajib. Barang siapa yang lupa membaca bismillah, maka hendaknya menyusulinya ketika teringat kembali. Sebagaimana seseorang lupa membaca basmillah ketika hendak makan. Walaupun melewatkan membaca bismillah tidak mengugurkan kesahihan berwudhu, tetapi meninggalkan basmallah ketika berwudhu mengurangi nilai wudhu itu sendiri. Sebuah hadits menerangkan:
من توضأ وذكر اسم الله كان طهورا لجميع بدنه وإن لم يذكراسم الله تعالى كان طهورا لأعضاء وضوئه
Barang siapa berwudhu dengan membaca basmallah maka sucilah seluruh anggota badannya. Dan barang siapa berwudhu tanpa membaca basmallah maka suci anggota wudhunya saja.
 
Kedua, membasuh kedua telapak tangan dahulu sebelum memulai berwudhu, karena telapak tangan adalah tempat memindahkan air ke anggota-angota wudhu. Jadi kesuciannya harus diutamakan terlebih dahulu. Terutama ketika baru bangun tidur, karena ketika tidur tidak seorang pun tahu kemana tangannya di arahkan dan najis apapula yang telah menempelinya. Hadits Rasulullah saw menjelaskan:
إذا قام أحدكم من نومه فليغسل يديه قبل أن يدخلهما فى إناء ثلاثا فإنه لايدرى أين باتت يده
Apa bila seseorang bangun tidur, maka hendaklah membasuh kedua tangannya tiga kali terlebih dahulu seselum mengambil air wudhu. Karena sesungguhnya ia tidak tahu kemana tangan tersebut ia letakkan waktu ia tidur.
Ketiga, memulai dengan berkumur dan menghisap air dengan hidung (istinsyaq) sebelum membasuh wajah dengan bersungguh-sungguh, ketika sedang tidak berpuasa. Makna bersungguh-sungguh dalam berkumur adalah mengelilingkan air pada seluruh mulutnya dan bersungguh-sungguh dalam beristinsyaq adalah menghirup air hingga pangkal hidung.
Keempat, diantara sunnah-sunnah wudhu adalah menyela-nyela janggut (jenggot) yang tebal dengan air sehingga sampai ke bagian dalam. Sebagaimana cara wudhu yang dipraktikkan Rasulullah saw yang tergambar dalam haditsnya:
روي عن ابن عباس رضي الله عنهما : أنه عليه الصلاة والسلام كان إذا توضأ شبك لحيته الكريمة بأصابعه من تحتها
Bahwasannya Rasulullah saw ketika berwudhu selalu menyela-nyela janggut dengan jari-jemarinya dari arah bawah.
Dan kelima, menyela-nyela jari-jemari tangan dan kaki. Hal ini sebagai penjagaan jikalau terdapat kotoran atau najis yang terselip diantara jari-jari. Demikian pula yang dilakukan dan diperintahkan Rasulullah saw:
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا توضأت فخلل أصابع يديك ورجليك
Apabila kamu berwudhu maka sela-selailah jari-jemari kedua tangan dan kakimu
Adapun kesunnahan yang lainnya seperti mendahulukan anggota yang kanan, mengulangi tindakan wudhu sebanyak tiga kali dan menggosok-gosok anggota wudhu jarang sekali terlupakan, sehingga banyak orang yang tidak mengerti menganggapnya sebagai fardhunya wudhu. Padahal fardhunya wudhu itu hanya ada enam perkara; 1) niat dengan membasuh muka. 2) membasuh muka. 3) membasuh kedua tangan sampai dengan kedua siku. 4) mengusap sebagian kepala. 5) membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki. 6) urut sesuai apa yang telah tersebut di atas dari pertama sampai keenam.
Disarikan dari Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar.
Redaktur: Ulil Hadrawy

NABI MUHAMMAD SAW


Tidak ada satu kejadianpun yang terjadi di muka bumi ini terlepas dari kehendak dan pengetahuan Allah, tidak juga bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Utara. Yang pasti ada Hikmah yang terkandung dalam setiap kejadian itu. Remungkan dan petik hikmahnya. Sudah empat pekan berlalu dari musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Utara. Banyak 'ibrah (pelajaran) dan Hikmah yang dapat kita ambil untuk kemudian menjadikan kita lebih mendekatkan diri kepada sang Khaliq. Sebagaimana banyak pula kejadian luar biasa yang mencengangkan kita semua, di
antaranya yang sering kita lihat melalui media televisi adalah kokohnya masjid Baitur Rahman di Banda Aceh. Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini tetap tegar berdiri dimana banyak tempat-tempat yang  lainnya hanyut dibawa arus yang deras dan tinggi. Hal ini mengingatkan kita pada symbol dan kebanggaan umat Islam yang menjadi kiblat dalam shalat mereka yaitu ka'bah yang tetap tegar berdiri semenjak dibangunnya hingga kini meskipun sering mengalami bencana yang tidak kalah dahsyatnya dengan bencana yang menimpa Aceh dan Sumatera Utara. Masih ingat dalam benak air bah yang diturunkan oleh Allah pada masa Nabi Nuh. Air ketika itu tidak hanya bersumber dari bumi tapi juga turun dari langit bagaikan air
laut yang ditumpahkan. Tidak hanya dalam
hitungan jam tapi selama 5 bulan air bah
tersebut menggenang dan menghanyutkan
semua yang ada di permukaan bumi. Tapi,
Allah melindungi Baitullah Ka'bah al
Musyarrafah dari air bah yang begitu
dahsyatnya sekaligus untuk menunjukkan
keagungan dan kekuasaanya.
Begitu juga ketika tentara Abrahah ingin
menghancurkan Ka'bah Allah melindunginya
dengan mengirim burung yang menghancurkan
mereka.[]
Tahun Gajah Dan Usaha
Penghancuran Ka'bah
Yaman termasuk salah satu daerah di
Jazirah Arab yang menjadi saksi bisu sejarah
perkembangan peradaban bangsa Arab dari
dulu hingga sekarang. Pada beberapa kurun,
tepatnya di masa Jahiliyah, Yaman dikuasai
oleh Kerajaan Habasyah sampai masa
kepemimpinan Raja Habasyah terakhir Saif
ibn Dzi Yazin, sebelum akhirnya Yaman
ditaklukkan dan dijajah oleh Perancis selama
beberapa tahun. Selama berada di bawah
kekuasaan Kerajaan Habasyah banyak sekali
peristiwa-peristiwa bersejarah yang
berpengaruh pada perkembangan Bangsa
Arab di antaranya adalah peristiwa Tahun
www.darulfatwa.org.au
Gajah dan usaha penghancuran Ka’bah yang
terjadi pada masa kekuasaan Abrahah ibn
ash-Shabbah al-Asyram.
Pada saat itu orang-orang Arab banyak
berdatangan ke Mekkah untuk menziarahi
Ka’bah yang terdapat di sana, sehingga kota
Mekkah dan sekitarnya menjadi ramai
dikunjungi orang. Hal ini menimbulkan niat
jahat pada diri Abrahah, ia berkeinginan
untuk mengubah persepsi orang-orang yang
berkeyakinan bahwa Ka’bah adalah rumah
suci, sehingga mereka ramai mengunjunginya,
ia ingin agar orang-orang berkunjung ke
Yaman bukan ke Mekkah. Ia akhirnya
membangun sebuah bangunan dengan
arsitektur yang indah dan menawan yang
ditempatkan di Sana’a dan diberi nama
“Qullais”, dengan tujuan agar orang-orang
berkunjung ke Yaman bukan ke Mekkah lagi.
Niat jahat Abrahah ini diketahui dan
tersebar luas di kalangan bangsa Arab setelah
ia menulis surat yang ditujukan ke penguasa
Habasyah pada saat itu, dalam suratnya ia
menceritakan bahwa pendirian bangunan
yang dimaksudkan agar menjadi saingan dari
Ka’bah telah selesai, seraya ia berkata: “Saya
tidak akan berhenti di sini, sebelum saya
kerahkan semua bangsa Arab untuk
menziarahi Yaman”.
Sudah pasti, perbuatan Abrahah ini
menimbulkan kemarahan dari seluruh bangsa
Arab. Seorang laki-laki dari Bani Fuqaim
mendatangi bangunan tersebut, lalu duduk
dan buang air di sana dengan maksud
menghinanya. Setelah tahu akan hal itu,
Abrahah langsung marah dan bersumpah
akan menghancurkan Ka’bah. Seluruh
pasukan disiapkan untuk berangkat ke
Mekkah, di antara barisan pasukan terdapat
tiga belas gajah yang dipimpin oleh seekor
gajah yang sangat kuat yang diberi nama
“Mahmoud”. Mendengar hal itu orang-orang
Arab berusaha menghalangi pasukan Abrahah
agar jangan sampai mendatangi Mekkah.
Beberapa orang berusaha menghalang-halangi
mereka, di antaranya salah seorang pembesar
www.darulfatwa.org.au
Yaman dari bangsa Arab yang dijuluki Dzu
Nafar, namun usahanya tidak berhasil dan
akibatnya ia malah dijadikan tawanan. Begitu
juga Nufail ibn Habib al-Khats’amy yang
akhirnya mengalami nasib yang sama seperti
Dzu Nafar.
Sesampainya di Thaif, Bani Tsaqif
mengirim seorang penunjuk jalan yang
bernama Abu Rughal, ia ditugasi untuk
menunjukkan jalan sampai ke sebuah tempat
yang bernama al-Mughammis (berada di
dekat Mekkah di sekitar jalan antara Thaif –
Mekkah). Sesampainya di al-Mughammis,
Abu Rughal mati dan dikuburkan di sana
(orang-orang Arab jika melewati kuburannya
mereka melempari kuburan tersebut dengan
batu). Kemudian Abrahah mengirim seorang
utusan ke Mekkah yang bernama al-Aswad
ibn Maqsud dan berhasil merampas beberapa
harta orang-orang Mekkah baik dari kabilah
Quraisy atau yang lainnya, di antara hartaharta
tersebut terdapat 200 ekor unta
kepunyaan Abdul Muththalib ibn Hasyim
(kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam),
selanjutnya Abrahah juga mengirim utusan
lagi yang bernama Hunathah al-Himyari
yang ditugaskan untuk mencari pemuka dan
pembesar Mekkah, Abrahah berpesan: “Cari
tahu siapa pembesar dan pemuka daerah ini,
katakan padanya bahwa aku tidak ingin
berperang, tapi hanya ingin menghancurkan
Ka’bah”, Hunathah pun melakukan tugasnya
dan menemui Abdul Muththalib, lalu Abdul
Muththalib menjawab: “Ia tidak mau
berperang dengan kita, dan kita pun tidak ada
urusan dengannya, kita akan membiarkan apa
yang ingin ia lakukan, sesungguhnya ini
adalah Rumah Allah yang suci (rumah tempat
menyembah Allah), dan rumah kekasih-Nya
Ibrahim ‘alaihi salam, jika Allah melindunginya
maka itulah kehendak Allah karena ini adalah
rumah Allah dan tanahnya yang suci, dan jika
Ia menghalangi Abrahah maka itu adalah
kekuasaanNya, demi Allah kita tidak punya
kekuatan apapun”, lalu Hunathah
menawarkan: “Ikutlah denganku untuk
www.darulfatwa.org.au
menemui Abrahah”. Mereka berdua pun
berangkat, dan sesampainya di perkemahan ia
dipertemukan dengan Abrahah. Melihat
Abdul Muththalib (sebenarnya namanya
adalah Syaibah) yang sangat berwibawa,
Abrahah menyambutnya dengan hangat,
bahkan ia sampai turun dari kursi lalu duduk
di sampingnya. Abrahah berkata kepada
penerjemahnya: “Tanyakan kepadanya apa
yang ia inginkan”, Abdul Muththalib
menjawab: “Aku hanya ingin agar al-Aswad
mengembalikan unta-untaku yang berjumlah
200 ekor”. Abrahah berkata kepada
penerjemahnya: “Katakan padanya bahwa
aku sangat kagum dan heran kepadanya, aku
datang ke sini untuk menghancurkan rumah
yang menjadi symbol agamanya dan agama
nenek moyangnya, tapi ia tidak
memperdulikan itu sama sekali, ia malah
bertanya mengenai untanya yang telah aku
ambil”, Abdul Muththalib menjawab: “Aku
adalah pemilik unta-unta itu, sementara
rumah ini juga ada yang menguasai dan
memilikinya yang akan melindunginya”.
Akhirnya Abrahah mengembalikan untauntanya.
Setelah menerima semua untanya
Abdul Muththalib kembali ke Makkah dan
membagi-bagikan unta-unta tersebut kepada
seluruh penduduk Makkah, sambil
menyerukan kepada mereka agar keluar dan
bersembunyi di atas gunung-gunung untuk
menghindari kekejaman pasukan Abrahah.
Lalu mereka pun pergi dan sebelum pergi
Abdul Muththalib bersama beberapa orang
berdiri di depan pintu Ka’bah dan berdo’a
agar Allah menyelamatkan Ka’bah dari
Abrahah dan pasukannya.
Abdul Muththalib bersama beberapa
orang Mekkah lainnya berlari ke atas gunung
untuk berjaga-jaga di sana dan mengawasi
apa yang akan dilakukan oleh Abrahah dan
pasukannya. Ketika Abrahah dan pasukannya
bersiap-siap masuk Mekkah dan menyiapkan
gajah “Mahmoud” dengan tekad bulat untuk
menghancurkan Ka’bah, tiba-tiba Nufail
mendekati “Mahmoud” dan memegangi
www.darulfatwa.org.au
telinganya seraya membisikkan: “Mahmoud!!!
Kembalilah ke tempat asalmu, sesungguhnya
sekarang engkau berada di tanah haram yang
suci”, seketika itu “Mahmoud” langsung
tersungkur dan Nufail pun berlari ke atas
gunung untuk berlindung. Beberapa pasukan
memukuli “Mahmoud” namun tetap tak mau
berdiri, akhirnya “Mahmoud” diputar
menghadap ke arah Yaman, anehnya
“Mahmoud” langsung berdiri dan berlari-lari
kecil, begitu juga ketika mereka
menghadapkannya ke arah Syam dan ke arah
Timur, “Mahmoud” melakukan hal yang
sama, namun setelah dihadapkan kembali ke
arah Mekkah ternyata “Mahmoud”
tersungkur lagi. Pada saat yang genting
seperti itulah Allah subhanahu wa ta’ala
mengirim sekawanan burung dari laut, setiap
burung membawa 3 batu, 2 di kaki dan 1 di
paruh, batu-batu tersebut berukuran lebih
besar dari biji tanaman adas dan lebih kecil
dari biji kacang, di setiap batu tertulis nama
orang yang akan dilempar dengan batu
tersebut, setelah dijatuhkan batu-batu tersebut
mengenai kepala masing-masing pasukan,
melukai bagian otak mereka dan menjatuhkan
mereka, seketika itu mereka langsung mati.
Sementara Abrahah mengalami luka parah,
bagian tubuhnya terpotong sedikit-demi
sedikit, sampai akhirnya dadanya terbelah,
hatinya keluar, dan akhirnya mati. Setelah itu
siksaan Allah pada mereka masih belum
berhenti, Allah mendatangkan banjir besar
yang menghanyutkan jasad mereka ke laut.
Satu-satunya orang yang berhasil lolos adalah
Abu Yaksum al-Kindi salah seorang menteri
Abrahah, namun ia tetap diikuti oleh seekor
burung sampai ia menemui an-Najasyi di
Habasyah, sesampainya di sana ia ceritakan
semua yang telah terjadi, setelah itu barulah
burung yang mengikutinya tersebut
melemparkan sebutir batu dan mengenai
kepalanya, akhirnya ia pun mati di hadapan
raja. An-Najasyi melihat sendiri dengan mata
kepalanya peristiwa yang sangat
menghebohkan itu terjadi. Dalam satu
www.darulfatwa.org.au
riwayat dikatakan oleh al-Qurthuby bahwa
60.000 orang penduduk Habasyah yang
dibawahi oleh Abrahah mati karena siksaan
dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sesaat setelah peristiwa kehancuran
Abrahah dan pasukannya, Abdul Muththalib
dengan ditemani oleh Abu Mas’ud ats-
Tsaqafi turun dari atas gunung untuk melihat
keadaan Abrahah dan pasukannya, ia melihat
semua pasukan tergeletak dan tidak bergerak
sama sekali, kemudian digalilah olehnya dua
buah lubang besar untuk memendam emas
dan perhiasan dari harta kepunyaannya dan
kepunyaan Abu Mas’ud, setelah itu baru ia
panggil semua orang ke tempat itu, dan
mereka seakan menemukan harta yang sangat
banyak.
Setelah kejadian itu, kekuasaan Yaman
diserahkan oleh Habasyah kepada Yaksum
ibn Abrahah, dan ia berhasil menundukkan
Himyar dan seluruh daerah Yaman, setelah
itu baru Habasyah menyerbu Yaman,
membunuh semua laki-laki dewasa dan
menawannya, serta menikahi perempuannya
dan menjadikan anak-anak sebagai
penerjemah bahasa Arab.
Sebagian ulama mengatakan bahwa
peristiwa gajah ini adalah sebagai bukti
kebenaran dakwah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau lahir pada tahun
terjadinya peristiwa gajah ini, yaitu tepatnya
pada tanggal 8 Rabiul Awwal (menurut
sebagian pendapat 12 Rabiul Awwal), ini
sebagai tanda kemuliaan Rasulullah,
sementara peristiwa gajah ini sendiri juga
disebutkan dalam al-Qur’an.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
ألم تر كيف فعل ربك بأصحاب الفيل – ألم يجعل
كيدهم في تضليل - وأرسل عليهم طيرا أبابيل –
ترميهم بحجارة من سجيل – فجعلهم كعصف مأكول
www.darulfatwa.org.au
Maknanya: "Bukankah engkau mengetahui1
wahai Muhammad apa yang Tuhanmu perbuat
terhadap tentara-tentara gajah, bukankah Dia telah
menjadikan usaha mereka (untuk menghancurkan
ka'bah) sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada
mereka burung yang berbondong-bondong, yang
melempari mereka dengan batu yang berasal dari
tanah dan tertulis nama-nama mereka yang harus
dilempar oleh burung-burung tersebut, lalu Dia
menjadikan mereka seperti daun-daun yang hancur
dimakan binatang ternak dan dilemparkannya dari
bawah, bagian tubuh pasukan Abrahah terpotongpotong
seperti bagian-bagian tanaman tersebut.[]
1 Para ulama tafsir mengatakan bahwa makna
yang tepat untuk lafadz تر dalam ayat ini adalah تعلم
(mengetahui) sebagaiamana yang diriwayatkan oleh al
Bukhari dalam shahihnya dari riwayat Mujahid. Ibn
Hajar al Asqalani dalam fath al bari meriwayatkan dari al
Farra- bahwa maknanya adalah تخبر (dikabarkan).
Makna-makna ini adalah logis karena Rasulullah ketika
itu masih bayi tidak mungkin melihat langsung kejadian
itu akan tetapi Allah memberitahukannya tentang
kejadian tersebut melalui wahyu.
Al Madinah Al Munawwarah
Madinah adalah kota yang penuh
berkah, kota yang menjadi tempat hijrah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari
Mekkah, sampai akhirnya beliau meninggal di
sana. Tanahnya pernah merasakan pijakan
kaki makhluk yang paling mulia Rasulullah
pemimpin seluruh umat dari zaman Nabi
Adam hingga akhir zaman, jalannya seakan
akrab dengan langkah kaki beliau, dan
sekarang bisa kita saksikan tanahnya yang
suci menjadi tempat disemayamkannya
Rasulullah dan dua orang sahabat beliau.
Madinah adalah markas kekuatan umat Islam
dalam berjihad menyebarkan kalimat tauhid
ke seluruh penjuru dunia. Madinah adalah
kota kedua yang paling mulia setelah Mekkah
al-Mukarromah.
www.darulfatwa.org.au
Madinah adalah kota yang istimewa,
banyak sekali hadits yang diriwayatkan
menceritakan tentang kemuliaan dan
keistimewaan kota Madinah, di antaranya
Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله
والملائكة والناس أجمعين (رواه البخاري)
Maknanya: “Siapa saja yang berbuat kezaliman di
Madinah atau melindungi orang yang zalim di
sana, maka Allah, para malaikat dan seluruh
manusia akan melaknatnya” (HR. al Bukhari)
أمرت بقرية تأكل القرى يقولون يثرب وهي المدينة
تنفي الناس كما ينفي الكير خبث الحديد (رواه مسلم)
Maknanya: “Aku diperintah ke sebuah daerah
yang menguasai daerah-daerah lainnya, orangorang
menyebutnya Yatsrib, ialah madinah yang
membuang orang-orang kafir yang ada di
dalamnya, sebagaimana bara api membersihkan
besi dari karatan” (HR. Muslim)
Maksudnya malaikat akan mengangkut
jasad orang-orang kafir dan munafiq yang
mati di madinah di atas unta-unta hitam
untuk dikeluarkan dari Madinah, sebaliknya
akan membawa jasad orang-orang yang
bertaqwa yang meninggal di luar Madinah di
atas unta-unta putih untuk dibawa masuk ke
Madinah (Peristiwa ini sering kali disaksikan
di madinah).
Do’a yang sangat indah dan patut kita
amalkan pernah diucapkan oleh Sayyidina
Umar ibn al-Khattab sebagai berikut:
اللهم ارزقني شهادة في سبيلك ووفاة في بلد رسولك
Maknanya: “Ya Allah berilah aku mati syahid
dalam membela agama-Mu dan mati di negara
Rasul-Mu (al-Madinah)”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
sering menyebut Madinah dengan “Thabah”,
sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari
bahwasanya setiap kali melihat madinah
www.darulfatwa.org.au
beliau selalu berkata: “ هذه طابة ”, dan beliau
juga pernah bersabda:
المدينة خير لهم لو كانوا يعلمون
Maknanya: “Madinah adalah berkah bagi umat
Islam jika mereka semua mengetahui”.
Rasulullah juga pernah memberi kabar
gembira bahwa iman akan kembali
(berlindung) Madinah, beliau bersabda:
إن الإيمان ليأرز إلى المدينة كما تأرز الحية إلى حجرها
(رواه مسلم)
Maknanya: “Sesungguhnya iman akan (kembali)
berlindung ke Madinah sebagaimana ular
berlindung di liangnya” (Muslim).
Rasulullah juga memperingatkan agar
jangan sampai ada orang yang melakukan
tipu daya kepada penduduk Madinah,
sebagaimana dipahami dari sabda beliau:
لايكيد أهل المدينة أحد إلا انماع كما ينماع الملح في
الماء (رواه البخاري)
Maknanya: “Orang yang menipu penduduk
Madinah sungguh ia akan hancur seperti leburnya
garam dalam air” (HR. al-Bukhari).
Termasuk tanda kemuliaan Madinah
adalah bahwasanya Dajjal –semoga Allah
melaknatinya- tidak akan bisa memasukinya,
munculnya Dajjal adalah salah satu tanda
kiamat kubra, bahkan ia yang nanti akan
pertama kali muncul. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
لا يدخل المدينة رعب المسيح الدجال لها يومئذ سبعة
أبواب على كل باب ملكان
Maknanya: “Dajjal tidak akan bisa memasuki
Madinah, karena Madinah dikelilingi oleh tujuh
pintu dan disetiap pintu terdapat dua malaikat”.
www.darulfatwa.org.au
على أنقاب المدينة ملائكة لا يدخلها الطاعون ولا
الدجال (رواه البخاري)
Maanya: “Di setiap jalan masuk ke kota
Madinah terdapat banyak malaikat, oleh karena itu
penyakit Tha’un dan Dajjal tidak akan bisa
memasukinya” (HR. al-Bukhari).
Diriwayatkan juga dari sahabat Anas ibn
Malik bahwa Rasulullah bersabda:
ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال إلا مكة والمدينة ليس له
من نقاا نقب إلا عليه الملائكة صافين يحرسوا ثم
ترجف المدينة بأهلها ثلاث رجفات فيخرج الله كل
كافر ومنافق (رواه البخاري)
Maknanya: “Setiap daerah di permukaan bumi ini
akan dimasuki oleh Dajjal kecuali makkah dan
Madinah, karena di setiap pintu masuk kedua kota
tersebut terdapat malaikat-malaikat yang berbaris
dan menjaganya, lalu Madinah akan digoncang
tiga kali goncangan untuk mengeluarkan orangorang
kafir dan munafiq dari sana” (HR. al-
Bukhari).
Saking cintanya Rasulullah kepada
madinah beliau sampai berdo’a sebagai
berikut:
اللهم اجعل بالمدينة ضعفي ما جعلت بمكة من البركة
(رواه البخاري)
Maknanya: “Ya Allah berilah keberkahan bagi
Madinah dua kali lipat dari keberkahan Makkah”
(HR. al-Bukhari).
Juga termasuk kemuliaan yang agung
bagi Madinah adanya salah satu taman dari
taman-taman surga yang terletak di antara
rumah beliau dan mimbar masjid nabawi, hal
ini sebagimana disabdakan oleh Rasulullah:
ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة (رواه
البخاري)
Maknanya: “Tempat di antara rumahku dan
mimbarku adalah taman surga” (HR. al-Bukhari).
www.darulfatwa.org.au
Said ibn Sakan meriwayatkan sebuah
hadits dan meshahihkannya sebagai berikut:
من جاءني زائرا لا تعمله حاجة إلا زيارتي كنت له
شفيعا أو شهيدا يوم القيامة
Maknanya: “Siapa saja yang menziarahiku, dan ia
tidak punya keinginan lain selain untuk
menziarahiku maka aku akan memberi syafaat
baginya dan aku akan menjadi saksi baginya pada
hari kiamat kelak”.
من زار قبري وجبت له شفاعتي
Maknanya: “Siapa saja yang menziarahi
makamku maka ia pasti akan mendapat syafa’at
dariku”.
Diriwayatkan oleh al-Hakim bahwa
Rasulullah bersabda:
ليهبطن عيسى بن مريم حكما مقسطا وليسلكن فجا
حاجا أو معتمرا وليأتين قبري حتى يسلم علي ولأردن
عليه
Maknanya: “Nabi Isa akan turun dari langit
sebagai penegak keadilan dan ia akan melakukan
perjalanan haji atau umrah, kemudian selanjutnya
ia akan menziarahi makamku seraya mengucapkan
salam kepadaku dan aku akan menjawab
salamnya”.
Tidak diragukan lagi, ziarah ke makam
Rasulullah adalah termasuk perbuatan yang
paling agung yang bisa mendekatkan diri
kepada Allah. Karena di tempat itulah
terdapat Rasul yang paling mulia, yang
memiliki derajat yang sangat tinggi dan
berjuta keistimewaan yang tidak bisa
diucapkan dengan kata-kata.
Rasulullah menganjurkan kepada umat
Islam agar sering kali melakukan ziarah kubur
untuk mengingat kematian dan hari akhir,
lebih-lebih ziarah ke makam beliau yang
sangat mulia dan penuh berkah. Pengaruhnya
pasti akan sangat besar sekali di hati orangorang
yang sadar. Orang yang berdiri dan
mengucapkan salam kepada beliau shallallahu
‘alaihi wasallam dengan sopan santun dan
www.darulfatwa.org.au
penghormatan yang tinggi, ia akan mengingat
kesabaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam menghadapi rintangan dakwah,
mengeluarkan manusia dari kegelapan
menuju cahaya iman, akhlaq terpuji yang
dicontohkannya, kerusakan yang beliau
hapuskan, syari’at yang beliau bawa yang
wajib diikuti yang menunjukkan kepada
kebaikan dan menyingkirkan segala
kebejatan. Tidak salah lagi, ziarah ke makam
Rasul dan dua orang sahabat beliau (Abu Bakr
dan Umar) yang dengan gigih membantu
beliau sampai titik darah penghabisan adalah
termasuk perbuatan yang sangat agung yang
bisa mendekatkan diri kepada Allah.[]

ANCAMAN DAN PENENTANGAN TERHADAP AQIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMA‘AH1


Oleh:
Ustaz Mohd Rasyiq Bin Mohd Alwi2
Penolong Pengarah Institut Pengajian Darul Hijrah, Shah Alam, Selangor
Alhamdulillah, segala puji-pujian bagi Allah Tuhan sekalian alam, Dia-lah yang mencipta ‘arasy, langit dan bumi, Dia-lah jua Pencipta tempat, wujud-Nya tanpa memerlukan tempat. Selawat dan salam ke atas junjungan besar kita Nabi Muhammad, ahli keluarga dan para sahabat Baginda.
1. MUQADDIMAH
Dewasa kini seringkali kita mendengar banyak golongan yang asyik melabelkan diri mereka sebagai Ahli Sunnah Wal Jama‘ah. Akan tetapi adakah dengan hanya mengaku sedemikian sahaja tanpa bukti yang kukuh harus bagi kita pula menamakan mereka sebagai Ahli Sunnah Wal Jama‘ah?
Kita jua ketahui bahawa ancaman dan penentangan terhadap Ahli Sunnah Wal Jama‘ah yang sebenar datang dari pelbagai sudut termasuk wujudnya ajaran-ajaran songsang, aliran-aliran baru yang menyimpang, keganasan yang terkeluar dari erti jihad, isu murtad dan sebagainya. Apakah mawqif ( فقوم ) dan peranan kita sebagai Ahli Sunnah Wal Jama‘ah?
Ramai jua yang tahu peranan masing-masing tetapi mengabaikan tindakan segera atau menganggap ia sebagai suatu yang boleh dilakukan pada masa yang akan datang tanpa disedari semakin hari semakin pupus insan yang mengetahui erti aqidah yang sebenar, semakin
1 Dibentangkan dalam Seminar Pemantapan Aqidah dan Perpaduan Ummah Negeri Melaka 2008 anjuran bersama Majlis Agama Islam Melaka, Jabatan Mufti Negeri Melaka, Persatuan Ulamak Negeri Melaka dan Persatuan Pegawai Syarak Negeri Melaka pada 3 April 2008M/26 Rabi‘ul Awwal 1429H di Auditorium Masjid Al-Azim, Bukit Palah, Melaka.
2 No. Telefon : 012-2850578
Email : m_shiq@yahoo.com
Website : - www.darul-hijrah.blogspot.com
- www.abu-syafiq.blogspot.com
- www.darulfatwa.org.au
2 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
hari semakin hilang mutiara ilmu aqidah yang menjadi senjata utama dalam menguatkan serta memajukan lagi taraf insan yang bergelar Ahli Sunnah Wal Jama‘ah.
Tidak pernah tahukah insan sebegini dengan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ibn ‘Asakir dan Imam Abdariyy bahawa Baginda pernah bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya manusia itu apabila ia melihat (mengetahui) kemungkaran, tiada pula ia merubahkannya, maka Allah akan mengumumkan azab-Nya ke atas semua manusia.”
Terlupakah insan ini akan kata-kata yang sering diungkap oleh para ulama seperti Imam ‘Ali al-Daqqaq yang bermaksud:
“Senyap dari menyatakan kebenaran merupakan syaitan bisu.”
Semoga dari tulisan dan pembentangan ini dapat menguatkan lagi semangat kita dalam memperjuangkan agama Allah. Amin.
2. AQIDAH
2.1. Erti Aqidah Dan Kaitannya Dengan Amalan Salih
Aqidah membawa erti pegangan dan kepercayaan seseorang. Pegangan dan kepercayaan ini pula terbahagi kepada dua iaitu benar atau salah. Aqidah yang benar merupakan kunci kepada segala penerimaan ibadah. Tanpa aqidah yang benar Allah tidak akan menerima segala amalan salih. Sekiranya aqidah seseorang itu salah maka yang akan dicatit hanyalah amalan keburukan maka akan hanya dibalas dengan keburukan. Justeru itu, perkara yang berkaitan dengan aqidah tidak harus dijadikan gurauan senda atau diremeh-remehkan. Hubungan aqidah dan amalan salih ini berdalilkan firman Allah yang bermaksud:
“Dan barangsiapa melakukan amalan salih dari kalangan lelaki ataupun wanita dalam ia beriman (beraqidah dengan aqidah yang betul) maka merekalah yang akan dimasukkan ke dalam syurga dan tidak akan dizalimi walaupun sedikit.”
(Al-Nisa’ ayat 124)
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 3
Ayat tersebut jelas menerangkan bahawa apa sahaja amalan salih yang dilakukan orang lelaki mahupun perempuan, imanlah syarat utama penerimaannya dari Allah. Begitu juga kenyataan dari hadith Nabi yang bermaksud:
“Semulia-mulia amalan adalan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (beraqidah dengan aqidah yang betul).”
(Sahih al-Bukhariyy)
Ini menandakan bahawa aqidah merupakan sesuatu yang teramat penting dan perlu diutamakan dari masalah-masalah yang lain.
2.2. Para Ulama Mengutamakan Ilmu Aqidah
Oleh kerana pentingnya ilmu aqidah maka kita dapati seluruh para ilmuan Islam akan mengutamakan ilmu aqidah. Perkara ini dapat dipetik dari kenyataan Imam tertua di antara mazhab empat iaitu Imam Abu Hanifah menyatakan dalam kitab beliau Fiqh al-Absat ( طسبلأا هقف ) yang bermaksud:
“Ketahuilah bahawa mendalami ilmu usuluddin (aqidah) itu lebih mulia dari mendalami ilmu fiqh.”
Kenyataan ini tidak bermakna kita tidak harus mempelajari ilmu fiqh langsung, akan tetapi Imam Abu Hanifah menerangkan kemuliaan mempelajari dan mengutamakan ilmu aqidah. Begitu juga para ulama yang lain mengutamakan ilmu ini seperti Imam yang menjadi pegangan mazhabnya di tanah air kita iaitu Imam Syafi‘iyy menyatakan yang bermaksud:
“Kami telah mendalami ilmu tersebut (aqidah) sebelum ilmu ini (fiqh).”
2.3. Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Kesemua aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah berlandaskan al-Qur’an, al-Hadith serta ijma‘ ulama. Ahli Sunnah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat yang telah dinyatakan oleh Allah Ta‘ala sendiri di dalam al-Qur’an dan apa yang telah dinyatakan oleh Rasulullah di dalam hadith
4 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Baginda tanpa mereka menyandarkan sifat tasybih ( هيبشت ) atau tajsim ( ميسجت ) bagi Allah, mereka juga menafikan sifat duduk, bertempat, berkaki, berbetis, zat yang turun naik dari langit ke bumi, berada di atas langit, berada di atas ‘arasy, dan sebagainya dari sifat yang tidak layak bagi Tuhan yang mencipta segala makhluk-Nya. Ini semua berdasarkan firman Allah di dalam Surah al-Syura ayat 11 yang bermaksud:
“Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya.”
Wujud-Nya Allah tanpa diliputi tempat berdalilkan juga dari sabda Nabi Muhammad yang bermaksud:
“Allah telah sedia wujud (azali) dan tiada sesuatupun selain Allah itu azali.”
(Riwayat al-Bukhariyy dalam Sahih al-Bukhariyy)
Ini menunjukkan bahawa Dia sahaja yang wujudnya azali manakala tempat, ‘arasy, langit, dan selainnya bukan azali.
Ijma‘ para ulama yang telah dinukilkan oleh Imam ‘Abd al-Qahir bin Tahir al-Baghdadiyy dalam kitab al-Farq Bayna al-Firaq ( قارفلا نيب قرفلا ) halaman 333 cetakan Dar al-Ma‘rifah jelas menunjukkan kewujudan Allah bukanlah berada di atas ‘arasy, akan tetapi Allah wujud tanpa diliputi oleh tempat:
“Dan telah disepakati dan di-ijma‘-kan bahawa Allah tidak diliputi tempat.”
Demikian ijma‘ para ulama yang tidak boleh ditolak lagi oleh golongan mujassimah ( ةمسجم ) dan musyabbihah ( ةهبشم ).
2.4. Aqidah Ulama Salaf ( فلس )
Ulama Salaf (bukan Wahhabi) adalah ulama yang pernah melalui kehidupannya pada era 300 Hijriyyah pertama. Kesemua ulama Salaf berpegang dengan aqidah bahawa:
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 5
Allah adalah Tuhan sekalian alam yang mencipta setiap sesuatu, wujud-Nya tanpa permulaan dan tanpa pengakhiran, Maha Suci Allah dari dilingkungi dan diliputi oleh tempat, bahkan wujud-Nya tanpa berada di sesuatu tempat, bukan di langit wujud-Nya bukan di bumi pula tempat-Nya. Allahlah Pencipta ‘arasy, diciptakannya untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan pula ianya dijadikan tempat bagi zat Allah. Kerana Dia Pencipta tempat maka Dia tidak memerlukan tempat.
Pegangan ulama Salaf pada ayat mutasyabihat ( تاهباشتم ) mengenai sifat Allah Ta‘ala pula kebanyakan ulama Salaf memilih jalan tidak mentakwilkan secara tafsiliyy “ يليصفت ” (terperinci) ayat tersebut akan tetapi ditakwil secara ijmaliyy “ يلامجإ ” (menafikan makna zahirnya) dan diserahkan makna sebenar kepada Yang Maha Mengetahui tanpa berpegang dengan zahirnya, tanpa menyandarkan sifat tasybih, tajsim dan bertempat bagi zat Allah.
Akan tetapi wujud di kalangan ulama Salaf yang mentakwilkan secara tafsiliyy ayat mutasyabihat seperti Imam al-Bukhariyy di dalam kitab beliau Sahih al-Bukhariyy ( يراخبلا حيحص ) mentakwilkan firman Allah di dalam Surah al-Qasas ayat 88:
“Wajah-Nya” bererti kerajaan-Nya.
Di sini akan dibawa sebahagian sahaja kenyataan dari para ulama Salaf termasuk para sahabat Nabi yang menunjukkan bahawa aqidah ulama Salaf antaranya adalah Allah wujud tanpa memerlukan tempat:
i. Seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan keilmuan beliau pernah dipuji oleh Rasulullah iaitu Imam Sayyidina ‘Ali karramallahu wajhah wafat pada 40 Hijriyyah pernah berkata yang bermakna:
“Sesungguhnya Allah telah wujud tanpa tempat, maka Dia sekarang tetap sedia wujud tanpa tempat.”
6 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Kenyataan ini dinyatakan dalam kitab karangan Imam Abu Mansur al-Baghdadiyy dalam kitab beliau yang masyhur al-Farq Bayna al-Firaq ( قارفلا نيب قرفلا ) pada halaman 256 cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ini memberi erti bahawa di antara aqidah para sahabat serta ulama Salaf adalah Allah wujud tanpa bertempat iaitu tidak dilingkungi oleh sesuatu tempat mahupun semua tempat. Dalam halaman kitab yang sama juga dinukilkan kenyataan Imam ‘Ali yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah mencipta ‘arasy adalah untuk menzahirkan kekuasaan-Nya dan bukanlah untuk dijadikan tempat bagi zat-Nya.”
ii. Imam al-Syafi‘iyy rahimahullah yang wafat pada 204 Hijriyyah pernah berkata:
“Dalil bahawa Allah wujud tanpa tempat adalah Allah Ta’ala telah wujud dan tempat pula belum wujud, kemudian Allah mencipta tempat dan Allah tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum terciptanya tempat, maka tidak harus berlaku perubahan pada zat-Nya dan begitu juga tiada pertukaran pada sifat-Nya.”
Kenyataan Imam al-Syafi‘iyy ini dinyatakan oleh Imam al-Hafiz Murtadha al-Zubaydiyy di dalam kitab beliau berjudul Ithaf al-Sadah al-Muttaqin ( نيقتملا ةداسلا فاحتإ ), juzuk kedua, mukasurat 36, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
iii. Imam yang terkenal dengan karangan kitab aqidah beliau berjudul ‘Aqidah al-Tahawiyyah ( ةيواحطلا ةديقع ) bernama Imam al-Hafiz Abu Ja‘far al-Tahawiyy wafat pada 321 Hijriyyah (merupakan ulama Salaf) telah menyatakan dalam kitab beliau tersebut pada halaman 15, cetakan Dar al-Yaqin yang bermaksud:
“Allah tidak berada (tidak diliputi) pada enam penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang) seperti sekalian makhluk.”
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 7
2.5. Aqidah Ulama Khalaf
Ulama Khalaf adalah mereka yang hidup selepas 300 Hijriyyah pertama. Aqidah ulama Khalaf juga tidak terkeluar dari landasan al-Qur’an dan al-Hadith serta ijma‘ ulama. Aqidah ulama Khalaf tidak sama sekali berlawanan dengan aqidah ulama Salaf, bahkan akidah ulama Salaf itu adalah aqidah ulama Khalaf, begitu jua sebaliknya. Cuma pada segi penerangan mengenai perkara yang berkaitan dengan sifat Allah yang tertentu ulama Khalaf memilih cara penerangan yang lebih terperinci bagi mengelakkan anggapan yang bersifat tasybih atau tajsim pada sifat Allah. Contohnya ramai di kalangan ulama Khalaf mentakwilkan secara tafsiliyy (terperinci) sifat-sifat Allah yang tertentu kepada makna yang selari dengan bahasa Arab dan layak bagi Allah serta mudah difahami oleh orang awam dan penuntut ilmu bertujuan menjauhkan anggapan yang tidak benar pada sifat Allah. Namun ada juga di kalangan ulama Khalaf yang tidak mentakwilkan secara terperinci.
Di sini akan disebut sebahagian sahaja kenyataan para ulama Khalaf bahawa Allah wujud tanpa memerlukan tempat:
i. Al-Hafiz Ibn Jawziyy al-Hanbaliyy rahimahullah wafat pada 597 Hijriyyah telah menyatakan di dalam kitab karangan beliau berjudul Daf’ Syubhah al-Tasybih ( هيبشتلا ةهبش عفد ) mukasurat 189, cetakan Dar Imam al-Nawawiyy:
“Sesungguhnya telah sahih di sisi ulama Islam bahawa Allah Ta‘ala tidak diliputi oleh langit, bumi dan tidak berada di setiap tempat.”
ii. Imam Hujjah al-Islam Abu Hamid al-Ghazaliyy yang wafat pada 505 Hijriyyah menyatakan dalam kitab beliau yang masyhur berjudul Ihya’ ‘Ulum al-Din ( نيدلا مولع ءايحإ ):
“Dan Allah juga tidak diliputi oleh tempat dan Allah tidak diliputi arah enam dan Allah tidak pula dilingkungi oleh langit dan bumi.”
Rujuk kitab Ithaf al-Sadah al-Muttaqin Fi Syarh Ihya’ ‘Ulum al-Din ( نيقتملا ةداسلا فاحتإ حرش يف نيدلا مولع ءايحإ ), juzuk 2, mukasurat 36, cetakan Dar al-Kutub al-
8 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
‘Ilmiyyah, Beirut. Maka ini bermakna antara aqidah ulama Khalaf adalah Allah wujud tanpa tempat.
2.6. KESEMUA ULAMA SALAF DAN KHALAF MENTAKWIL AYAT MUTASYABIHAT DARIPADA ZAHIRNYA
Ramai di kalangan para penceramah aqidah menyalahertikan perkara ini dengan mengatakan ulama Salaf tidak langsung mentakwilkan ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah, hanya ulama Khalaf sahaja yang mentakwilkan ayat tersebut. Ini adalah tanggapan yang tidak langsung berunsurkan pengkajian yang sebenar kerana dari pentakwilan Imam al-Bukhariyy yang dinukilkan di atas serta takwilan beliau dalam Sahih al-Bukhariyy juga pada ayat 56, Surah Hud jelas menunjukkan beliau sebagai ulama Salaf telah mentakwilkan ayat mutasyabihat mengenai sifat Allah.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniyy di dalam Fath al-Bariyy Syarh Sahih al-Bukhariyy ( يراخبلا حيحص حرش يرابلا حتف ) pada menyatakan hadith al-dhahik “ كحضلا ” (ketawa) berkata:
“Al-Bukhariyy telah mentakwilkan hadith al-dhahik “ كحضلا ” (ketawa) dengan erti rahmat dan redha.”
Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22, Surah al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sahih oleh Imam Bayhaqiyy dalam kitab Manaqib Ahmad ( دمحأ بقانم ) dari Imam Ahmad:
Firman Allah: “Dan telah datang Tuhanmu” ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan: Telah datang kekuasaan Tuhanmu.
Antara ulama Salaf yang mentakwilkan secara tafsiliyy iaitu terperinci pada ayat 5 dalam Surah Taha adalah Imam Salaf Abu ‘Abd al-Rahman ‘Abd Allah bin Yahya bin al-Mubarak wafat 237 Hijriyyah dalam kitab Gharib al-Qur’an Wa Tafsiruhu ( هريسفتو نآرقلا بيرغ ) halaman 113, cetakan Mu’assasah al-Risalah, Beirut:
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 9
Firman Allah: “Al-Rahman di atas ‘arasy ber-istawa”, istawa di sini ertinya menguasai.
Di antara ulama Khalaf pula yang mentakwilkan ayat tersebut secara tafsiliyy adalah Imam ‘Abd al-Rahim bin ‘Abd al-Karim bin Hawazan atau lebih dikenali sebagai Imam al-Qushayriyy telah mentakwilkannya dalam kitab beliau al-Tazkirah al-Syarqiyyah ( ةيقرشلا ةرآذتلا ):
“Al-Rahman di atas ‘arasy ber-istawa”, istawa di sini ertinya menguasai, menjaga dan menetapkan ‘arasy.
Maka natijahnya bahawa kedua-dua jalan pilihan ulama Salaf dan Khalaf adalah benar dan tidak menyimpang kerana kedua-duanya mentakwilkan cuma bezanya kebanyakan Salaf mentakwil secara ijmaliyy dan kebanyakan Khalaf mentakwil secara tafsiliyy.
2. ANCAMAN TERHADAP AHLI SUNNAH WAL JAMA‘AH
Ancaman terhadap Ahli Sunnah datang dari pelbagai sudut, sama ada dari golongan yang meng-izhar-kan mereka bukan Islam seperti Yahudi dan Kristian mahupun golongan yang mendakwa sebagai Islam seperti puak Syi‘ah, Wahhabiyyah, Hizb al-Tahrir, Ikhwanjiyyah (Khawarij), Islam Liberal, Sisters In Islam dan banyak lagi. Ini merupakan ujian Allah terhadap mereka yang berpegang dengan aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah di zaman kini supaya memperjuangkan sunnah (aqidah dan syari‘at) bagi mendapat ganjaran syahid dalam peperangan. Ini berdasarkan dari hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bayhaqiyy yang bermaksud:
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku (aqidah dan syari‘atku) ketika rosaknya umatku, maka baginya pahala syahid.”
2.1. Fahaman Syi‘ah
Fahaman Syi‘ah jelas terkeluar dari aqidah Ahli Sunnah Wal-Jama‘ah, kerana percanggahan dari pelbagai sudut dan yang paling asas dalam soal-soal aqidah. Sebahagian contoh kesesatan Syi‘ah dalam aqidah:
10 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
i. Imam adalah ma‘sum ( موصعم ).
ii. Para sahabat menjadi kafir kerana tidak melantik ‘Ali sebagai khalifah selepas kewafatan Nabi salla Allah ‘alayh wasalllam.
iii. Hanya berpandukan Qur’an dan hadith versi mereka.
Sebahagian contoh percanggahan dalam furu‘ ( عورف ):
i. Nikah mut‘ah ( ةعتم ) dihukumkan halal dan bercanggah sama sekali dengan ijma‘ ulama.
ii. Tidak menerima qiyas ( سايق ).
iii. Tidak menerima ijma‘ ( عامجإ ).
iv. Hukum agama hanya untuk orang awam dan bukan Imam.
v. Dan lain-lain.
2.2. Fahaman Wahhabiyyah ( ةيباهو )
Sejarah Ringkas Ajaran Wahhabi
Ajaran Wahhabi diasaskan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (1206H) yang mendorong pengikutnya mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka. Sudah pasti manusia yang lebih mengenali perihal Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab adalah saudara kandungnya dan bapanya sendiri.
Saudara kandungnya Syeikh Sulayman bin ‘Abd al-Wahhab sering memberi peringatan kepada umat Islam di zamannya agar tidak mengikut ajaran baru Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab kerana ajaran itu menghina ulama Islam serta mengkafirkan umat Islam. Sebagai bukti sila rujuk 2 kitab karangan Syeikh Sulayman tersebut: Fasl al-Khitab Fi al-Radd ‘Ala Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ( باهولا دبع نب دّمحم ىلع درلا يف باطخلا لصف ) dan al-Sawa‘iq al-Ilahiyyah Fi al-Radd ‘Ala al-Wahhabiyah ( ةيباهولا ىلع درلا يف ةيهللإا قعاوصلا ).
Bapanya juga iaitu ‘Abd al-Wahhab turut memarahi anaknya iaitu Muhammad kerana enggan mempelajari ilmu Islam dan beliau menyatakan kepada para ulama:
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 11
“Kamu semua akan melihat keburukan yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ini”.
Sebagai bukti sila rujuk kitab al-Suhub al-Wabilah ‘Ala Dhara’ih al-Hanabilah ( ةلبانحلا حئارض ىلع ةلباولا بحسلا ) cetakan Maktabah Imam Ahmad, muka surat 275. Demikianlah saudara kandungnya sendiri mengingatkan umat Islam agar berwaspada dengan ajaran TAKFIR yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab.
Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi
Mufti Mazhab Hanbaliyy, Muhammad bin Abdullah bin Hamid al-Najdiyy (1225H) menyatakan dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘Ala Dhara’ih al-Hanabilah ( ةلبانحلا حئارض ىلع ةلباولا بحسلا ), muka surat 276:
“Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh.”
Mufti Mazhab Syafi‘iyy, Ahmad bin Zaini Dahlan (1304H) yang merupakan tokoh ulama Makkah pada zaman Sultan ‘Abd al-Hamid menyatakan dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah Fi al-Radd ‘Ala al-Wahhabiyyah ( ةيباهولا ىلع درلا يف ةينسلا رردلا ), muka surat 42:
“Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat Islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab berkata: Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik.”
Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Ta’if. Sila rujuk kitab Umara’ al-Balad al-Haram ( دلبلا ءارمأمارحلا ), muka surat 297 – 298, cetakan al-Dar al-Muttahidah Li al-Nasyr.
12 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
Tokoh Wahhabi, ‘Abd al-Rahman bin Hasan Al al-Syeikh mengkafirkan golongan al-Asya‘irah yang merupakan pegangan umat Islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tawhid ( ديحوتلا باتآ حرش ديجملا حتف ) muka surat 353 cetakan Maktabah Dar al-Salam Riyadh.
Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Salih bin Fawzan al-Fawzan turut menghukum golongan al-Asya‘irah sebagai sesat aqidah dan bukan Ahli Sunnah Wal Jama‘ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam ( ملاسلإا يف نيددجملا رهاشم نم ), muka surat 32, cetakan Ri’asah ‘Ammah Li al-Ifta’ Riyadh.
Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama Islam bahkan umat Islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya:
“Mengikut mana-mana mazhab adalah syirik.”
Dan Wahhabi ini berani juga mengkafirkan ibu Bani Adam iaitu Sayyidatuna Hawwa dengan kenyataannya:
“Sesungguhnya syirik itu berlaku kepada Hawwa.”
Tokoh Wahhabi tersebut Muhammad al-Qanujiyy antara yang hampir dengan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Rujuk kenyataannya dalam kitabnya al-Din al-Khalis ( صلاخلا نيدلا ), juzuk 1, muka surat 140 dan 160, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Maka fahaman ini menjadi kewajipan kepada ulama membongkar untuk diperjelaskan memandangkan ramai orang Islam yang terkeliru dengan propaganda aliran ini. Aliran ini turut bertunjang kepada pemikiran Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Kharijiyy (al-Jawziyy) antaranya:
i. Membawa konsep bid‘ah ( ةعدب ) yang bercanggah dengan jumhur ulama.
ii. Mempromosi bid‘ah dalam usul “ لوصأ ” (aqidah) dan furu‘ ( عورف ).
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 13
Percanggahan Dalam Masalah Aqidah:
i. Membawa kaedah tawhid “Tiga T”; Tawhid Uluhiyyah ( ةيهولأ ديحوت ), Tawhid Rububiyyah ( ديحوتبروبةي ) dan Tawhid Asma’ Wa Sifat ( تافصو ءامسأ ديحوت ), penyelewengan mereka dalam hal tersebut adalah kerana membeza-bezakan antara Tawhid Uluhiyyah dengan Tawhid Rububiyyah sehingga menghukum kesemua orang kafir juga beriman kepada Allah serta menetapkan Tawhid Asma’ Wa Sifat dengan erti yang bercanggah dengan Ahli Sunnah Wal Jama‘ah sejati bahkan lebih menjerumus kepada aqidah tajsim yang ditolak oleh ulama Islam, pembahagian tawhid mereka tersebut tidak pernah wujud di dalam sejarah ilmu tawhid Ahli Sunnah Wal Jama‘ah tulen.
ii. Membawa fahaman “tajsim” dan “tasybih” iaitu menjerumus kepada menjisimkan Allah dengan mengatakan Allah itu adalah jisim dan menyamakan Allah dengan makhluk seperti menyifatkan Allah dengan sifat mulut, telinga, bayang-bayang dan selainnya dari sifat yang tidak pernah Allah nyatakan dalam al-Qur’an mahupun al-Hadith.
iii. Menolak pengajian sifat dua puluh (20).
iv. Menghukum syirik amalan tawassul ( لسوت ), tabarruk ( كربت ), ziarah kubur dan istighathah ( ةثاغتسإ).
v. Mengkafirkan dan mem-bid‘ah-kan ramai ulama-ulama yang diperakui kebenarannya di antaranya Imam Abu Hassan al-Asy‘ariyy, perumus aliran Ahli Sunnah Wal Jama‘ah, Imam Nawawiyy dan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniyy turut dihina oleh kelompok Wahhabi.
vi. Mengelirukan pengertian ta’wil ( ليوأت ), ta‘til ( ليطعت ) dan tafwid ( ضيوفت ).
vii. Mendakwa dari golongan Salaf.
viii. Mendakwa sesiapa yang mentakzimkan Nabi Muhammad membawa kepada syirik.
Percanggahan Dalam Furu’ Iaitu Cabangan Agama:
i. Menganggap talqin sebagai bid‘ah sesat.
ii. Mengganggap amalan tahlil, Yasin, kenduri arwah sebagai bid‘ah sesat.
iii. Menganggap qunut Subuh sebagai bid‘ah.
iv. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan.
v. Menggangap lafaz sayyiduna “ انديس ” (taswid “ ديوست ”) dalam solat sebagai bid‘ah sesat.
vi. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir.
14 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
vii. Menganggap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid‘ah sesat.
viii. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan hadith sebagai bid‘ah sesat. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid‘ah yang haram.
ix. Mengatakan bahawa sedekah pahala tidak sampai.
x. Menolak sambutan mawlid nabi, bahkan menolak cuti sempena hari mawlid Nabi Muhammad bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan mawlid Nabi dengan perayaan Kristian.
xi. Menolak amalan barzanji/marhaban/berdiri sewaktu selawat. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani. Sebahagian ulama mereka menyeru agar makam Rasulullah dikeluarkan dari Masjid Nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik.
xii. Menganggap amalan menziarahi makam Rasulullah, para anbiya’, awliya’, ulama dan salihin sebagai bid‘ah sesat lagi syirik. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab Sufi yang muktabar.
2.3. Gerakan Al-Arqam
Gerakan yang muncul pada awal 70an dengan membawa mesej dakwah kononnya ala Sufi. Diasaskan oleh Ustaz Ashaari Muhammad yang berasal dari Pilin, Negeri Sembilan.
Sehingga diharamkan pada 5 Ogos 1994 setelah ketua gerakan ini dapat ditahan di sempadan Thailand. Fahaman yang bercanggah, di antaranya:
i. Penambahan pada syahadah di awal awrad ( داروأ ) dengan ayat yang berbunyi “Muhammad al-Imam al-Mahdiyy khulafa’ Rasulillah” ( للها لوسر ءافلخ يدهملا ماملإا دمحم ).
ii. Menghubungkan awrad dengan pencak (silat) seru atau juga disebut sebagai silat sunda. Setelah diseru, seseorang itu dapat bergerak untuk bersilat dengan sendiri.
iii. Pengikut gerakan ini mempercayai Abuya dapat berbincang dengan Malaikat Maut untuk merunding cara ketentuan ajal ahli jemaahnya .
iv. Gerakan al-Arqam secara terang-terangan meyakini Sheikh Suhaimi yang dilahirkan pada 1259 di Bandar Sudagaran Daerah Wonosobo yang telah meninggal dunia dan
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 15
dimakamkan di Jalan Banting akan kembali semula sebagai Imam al-Mahdi yang ditunggu-tunggu.
v. Mereka juga berkeyakinan bahawa Abuya Ashaari Muhammad adalah pemuda Bani Tamim yang akan membawa panji-panji Imam al-Mahdi.
Al-Arqam Dan Minda.
Minda mengikut pendapat orang-orang Arqam ialah pemikiran Ashaari yang dianggap sebagai ilham atau wahyu. Salah seorang pemimpin mereka berkata minda Abuya adalah pemikiran yang relevan dengan masa kini sementara kitab-kitab para ulama adalah sudah basi (ketinggalan zaman).
Maryam Abbas ada berkata bahawa minda Abuya berfungsi sebagai pentafsir kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.
Dakwaan Terkini.
i. Tongkat power. Mereka meyakini bahawa Asyaari dikurniakan karamah oleh Allah yang ingin dikongsi dengan para pengikutnya. Maka beliau memasukkan barakah-nya (power) ke dalam tongkat.
ii. Budi bicara Abuya dalam hal kematian. Orang-orang Arqam mempercayai Abuya mereka boleh menjadi penimbang cara bila Malaikat ‘Izra’il ingin mencabut nyawa pengikutnya.
iii. Orang-orang Arqam dikehendaki sentiasa berzikir dengan nama Abuya…Ustaz Ashaari pemuda Bani Tamim… di dalam aktiviti harian.
iv. Mengadakan majlis pengampunan dosa.
2.4. Hizb Al-Tahrir ( ريرحتلا بزح )
i. Pengasas – Taqiyuddin al-Nabhaniyy. Berasal dari Palestin dan telah berhijrah ke Lubnan.
ii. Di Lubnan tinggal di Ra’s al-Naba’ pada akhir tahun 50an.
iii. Dia merasakan dirinya sebagai Amir al-Mu’minin dan menamakan isterinya Lami’ah Umm al-Mu’minin.
16 | Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah
iv. Mempunyai 3 orang anak: Taj, Usamah dan Ibrahim.
v. Mendakwa anak yang pertama sebagai pemerintah Syam, yang kedua pemerintah Iraq dan yang ketiga pemerintah Mesir.
vi. Pergerakan ini banyak di United Kingdom.
vii. Mengkafirkan pemerintah Muslim di mana-mana juga dunia Islam.
viii. Beraqidah seperti orang Mu‘tazilah, dengan meyakini segala perbuatan hamba adalah hasil ikhtiar hamba dan tiada kaitan dengan Allah. Dengan kata lain af‘al ( لاعفأ ) hamba bukan ciptaan Allah. Tiada kaitannya dengan qadha’ dan qadar. (Kitab al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah).
ix. Hidayah dan kesesatan adalah dari hamba dan tiada kaitannya dengan Allah. (al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah/kitab Nizam al-Islam).
x. Ma‘sum bagi para Anbiya’ adalah setelah dilantik, mereka sebelum dilantik adalah tidak ma‘sum, dengan kata lain mereka terdedah dengan segala dosa. (Kitab al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah).
xi. Majlis Syura mereka berhak memutuskan untuk keluar dari mematuhi pemerintah berdasarkan pemerintah yang ada, fasiq yang nyata. (Kitab al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah/Dustur Hizb al-Tahrir).
xii. Sekiranya pemerintah yang ada bercanggah dengan Syara‘ dan tidak berkemampuan untuk menegakkan pemerintahan yang Islam berkewajipan keluar dari mematuhi pemerintah. (Nizam al-Islam). Di dalam aqidah Ahli Sunnah, wajib mematuhi pemerintah sekalipun zalim dan fasiq amal.
xiii. Barangsiapa tidak mem-bay‘ah khalifah, mati dalam jahiliyyah. Didasari dengan katanya Nabi mewajibkan setiap orang Islam mem-bay‘ah khalifah. (al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah).
xiv. Orang-orang Islam semuanya berdosa besar kerana gagal untuk melantik khalifah. Dan masa yang dimaafkan 2 malam, dan kalau malam yang ke-3 gagal, maka berdosa. (al-Dawlah al-Islamiyyah).
xv. Sebenarnya mereka mengajak kepada orang ramai untuk mem-bay‘ah pemimpin mereka Taqiyuddin al-Nabhaniyy.
xvi. Perjalanan (safar) untuk melakukan maksiat adalah tidak berdosa, melainkan setelah melakukan perbuatan itu.
xvii. Mengharuskan salam dan bercium pipi bersama perempuan yang ajnabiyyah (bukan mahram).
Ancaman Dan Penentangan Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama‘ah | 17
Pelbagai lagi golongan yang tidak mengikut bahkan terkeluar dari aliran sebenar Islam Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Semoga Allah menyelamatkan dan menetapkan iman sebenar di dalam hati kita.
PENUTUP
Ketahuilah bahawa ilmu agama Islamlah menjadi asas kepada segala penyelesaian. Dalam keperitan umat Islam dan ulamanya menghadapi tentangan dan ancaman yang datang dari agama luar, umat Islam turut memikul tanggungjawab menyelesaikan permasalahan yang terbit dari dalam, maka ilmu agamalah merupakan satu-satunya langkah terawal yang perlu ada dalam diri setiap insan yang bergelar muslim dan ilmu tersebut adalah ilmu aqidah bertepatan dengan kenyataan Nabi kepada umat ini Nabi kita Nabi yang tercinta telah bersabda:
“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya ilmu diambil dengan belajar.”
dan Rasulullah turut bersabda:
“Janganlah kamu menuntut ilmu untuk menghina ulama Islam, janganlah kamu menuntut ilmu untuk mengutuk orang-orang jahil dan janganlah kamu menuntut ilmu bertujuan agar manusia memuji kamu, barangsiapa yang melakukan sedemikian maka dia dalam api neraka.”
(Riwayat Ibn Hibban)
Dengan ilmu dan amal serta mencegah dari kemungkaran juga ber-istiqamah dalam amalan ma‘ruf kebaikan maka yakinlah bahawa kita telah hampir berada dalam kejayaan. Semoga kita dianugerahkan syurga oleh Allah Ta‘ala. Amin ya Rabb al-‘Alamin.